
Lombok Tengah, 17 Oktober 2024 – Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Haji Abdul Rasyid Lombok Tengah (STIS HARSYI) menggelar kuliah umum bertemakan “Menjadi Mahasiswa Survive di Era Digital” pada hari Rabu kemarin, menarik perhatian para mahasiswa dan civitas akademika. Acara ini menghadirkan Bapak Mahsun, M.E., dosen dari Politeknik Negeri Balik Papan, sebagai pemateri utama, dan dipandu oleh Bapak Fahrurrozi, M.H., yang berperan sebagai moderator.
Ketua STIS HARSYI, Bapak Ahmad Sabeni, M.Pd.I, membuka acara dengan memberikan sambutan hangat dan menekankan pentingnya daya saing di era digital. “Di zaman yang serba cepat dan instan ini, mahasiswa harus memiliki kemampuan beradaptasi dan memanfaatkan teknologi untuk mendukung pembelajaran mereka. Kesiapan menghadapi tantangan digital adalah kunci untuk meraih kesuksesan,” ujarnya. Ia juga mengingatkan mahasiswa tentang pentingnya etika dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi, agar tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen yang cerdas.
Dalam sesi pemaparan, Bapak Mahsun menyampaikan banyak wawasan berharga mengenai strategi yang dapat diadopsi oleh generasi Z. Ia menjelaskan perbedaan signifikan antara generasi Z dan generasi sebelumnya, terutama dalam cara mereka berinteraksi dengan teknologi. “Generasi Z dibesarkan di tengah kemajuan teknologi yang pesat, dan ini memengaruhi cara mereka belajar, berkomunikasi, dan membangun relasi. Keterampilan digital menjadi sangat penting,” jelasnya. Ia menekankan bahwa mahasiswa harus mampu mengelola informasi dengan baik, memilah yang relevan, dan kritis terhadap berita yang beredar.

Selama sesi tanya jawab, mahasiswa menunjukkan antusiasme tinggi dengan berbagai pertanyaan. Salah satu mahasiswa bertanya tentang cara efektif memanfaatkan media sosial untuk tujuan akademik dan profesional. Bapak Mahsun memberikan saran tentang pentingnya membangun personal branding melalui konten yang positif dan bermanfaat, serta menjalin jaringan yang konstruktif di platform-platform digital. “Jangan hanya menjadi pengguna pasif, tetapi aktiflah berkontribusi,” tambahnya.
Di sisi lain, Bapak Fahrurrozi menjelaskan mengenai generasi “stroberi,” istilah yang merujuk pada generasi yang memiliki karakteristik khusus, seperti mudah terluka dan memerlukan perhatian ekstra. Ia menjelaskan bahwa generasi ini sering kali sangat sensitif terhadap tekanan, dan oleh karena itu, penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dan positif. “Mahasiswa stroberi ini memerlukan pendekatan yang lebih empatik dan inklusif agar mereka dapat berkembang dengan baik di tengah berbagai tantangan,” ujarnya.
Acara ini ditutup dengan harapan bahwa mahasiswa STIS HARSYI dapat lebih siap menghadapi dunia yang terus berubah. Bapak Ahmad Sabeni mengingatkan kembali bahwa keberhasilan di era digital bukan hanya soal kecerdasan akademis, tetapi juga kemampuan untuk beradaptasi dan berinovasi. Kuliah umum ini diharapkan menjadi titik awal bagi mahasiswa untuk menggali potensi mereka dan memanfaatkan era digital sebagai peluang, bukan hambatan.





0 Komentar